Langsung ke konten utama

Self Reminder - Teguran Allah


Mungkin Tuhan sedang sangat ingin menegurku, mengingatkanku bahwa dunia itu hanya sarana seorang hamba mengabdi pada-Nya. Beberapa hari ini banyak kejadian yang mungkin sederhana namun cukup berarti dan membuatku sadar bahwa yang dikerjar ketika kita hidup ini bukan hanya dunia tapi juga akhirat. Bukan cinta manusia, tapi cinta Allah dan Rasulnya.

Seseorang yang pernah menjadi teman berbagi cerita ga selamanya akan mau mendengar cerita kita. Seseorang yang biasanya ada untuk kita belum tentu akan terus ada untuk kita. Mungkin aku terlalu berharap jika ada seseorang yang kadang mencoba untuk mengenalku tanpa alasan yang jelas. Aku terlalu berharap seseorang yang baik itu nantinya akan bisa terus bersamaku.tapi sayangnya tidak, yang selalu ada itu Allah, yang selalu miscall itu Allah, yang ga kemana-mana dan selalu mengawasi kita itu Allah. Tapi manusia dengan mudahnya terlalu berharap ke manusia lain, yang hatinya bisa saja dibolak-balik dalam waktu yang ga pernah kita tahu. Tuhan sedang berbicara padaku untuk tidak lagi berharap pada manusia lain.

Kemarin malem tiba-tiba aja aku merasa kurang sehat kubiarkan saja seperti biasa karena memang bukan sesuatu yang perlu untuk dikhawatirkan. Setelah aku terbangun di tengah malam sakit yang kurasakan semakin parah sampai aku teringat akan kematian. Kebetulan beberapa hari dapet kabar tetangga meninggal karena sakit tapi ga lama. Sampai subuh aku menahan sakit sambal ber-istighfar, sampai adzan subuh berkumandang rasa sakit mulai berkurang. Tuhan sedang menegurku bahwa kita ga selamanya sehat, ga selamanya kuat, dan ga selamanya hidup.

Seharian aku lakukan semua aktivitas, kebetulan hari itu dirumah hectic banget jadi aku take over beberapa hal. Kebetulan juga hari itu aku ada test online di perusahaan idaman yang udah pengeeeen banget aku lamar tapi durasinya cuman 4 jam. Beberapa kali aku coba akses halaman test online, namun internal server error. Aku coba pake wifi rumah ga bisa, pake tethering handphonega bisa, pun aku pergi ke warnet gagal juga tetep internal server error bahkan connection declined. 1 jam tersisa untuk test aku berpikir kembali. Perusahaan ini terlalu jauh untuk dijangkau, untuk apa aku perjuangkan, lagi pula aku pun ga akan tega meninggalkan orang tua sendiri dirumah. Kutegur diriku sendiri “Benar kata kakakmu tak usah terlalu berambisi untuk pekerjaan yang baru, terima saja apa yang ada.”. Toh itu hanya urusan dunia, cita-cita ada namun ketika kita sudah memperjuangkan sekuat tenaga dan tetap tak berhasil, bagaimana lagi? Lagi-lagi Tuhan sedang berbicara padaku tentang sabar dan ikhlas.

Setelah kejadian gagal test yang sama sekali ga mutu gara-gara server error aku terus menerus self talk kudu ikhlas, lupakan, tinggalkan. Lalu kulanjutkan dengan daily activity seperti biasa mengerjakan ini itu supaya mudah lupa dengan apa yang tadinya membuat kecewa. Lelah rasanya terus menerus menuruti ambisi diri, ingin berhenti namun tak sampai hati. Mimpi-mimpi yang sudah kugantung, kalo ditinggalkan terlalu nanggung. Kembali ke daily activity, sore itu ada hal yang sangat amat memukulku, seolah ini teguran keras dari Allah. Dirumah lagi ada project dan banyak laki-laki tentunya, cukup “pekewuh” karena kondisi sumpek panas tapi tetep harus pertahankan hijab di dalem rumah. Seharusnya tidak menjadi alasan untuk lepas hijab. Namun terkadang aku escape ke ruangan aku untuk sekedar mencari udara segar. Namun sore itu Allah menunjukkan ke aku kalo pakai hijab ga bisa, ga boleh setengah-setengah. Sontak aku marah entah pada siapa ketika kejadian lepas hijab dan terlihat oleh orang yang bukan mahram. Bahkan aku memarahi orang itu karena ketidaksopanannya, aku menganggapnya tidak punya etika di rumah orang, aku menangis, pergi dari rumah, menerabas lampu merah, pergi ke tempat dimana aku bisa bebas menagis sambil memeluk-Nya. Sejak saat itu aku mengerti bahwa kita ga boleh asal-asalan pake hijab. Kita ga boleh lepas-lepas hijab sembarangan tanpa memastikan keadaan aman dari mata yang bukan mahram. Hijab itu kewajiban bukan pilihan, Hijab itu identitas bagi seorang muslimah Wajar jika kita merasa insecure dengan keberadaan orang-orang yang bukan mahram, namun semoga kejadian-kejadian ini bisa menjadi pengingat untuk selalu istiqomah. Amin.




Komentar